PERKUAT KOLABORASI RISET, INDONESIA LUNCURKAN PROTOTYPE VAKSIN DBD BERBASIS MRNA MENGGUNAKAN STRAIN VIRUS DENGUE LOKAL
Jakarta, 8 Juli 2026 - Indonesia kembali menorehkan langkah penting dalam memperkuat kemandirian di bidang kesehatan melalui peluncuran Prototype Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA yang dikembangkan menggunakan gen preM-E dari virus dengue strain Indonesia. Prototype ini merupakan hasil kolaborasi riset antara Universitas Indonesia, Tsinghua University, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana), dengan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dukungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kementerian Sains dan Teknologi Republik Rakyat Tiongkok dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta pendampingan regulatori oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.
Peluncuran prototype ini menjadi tonggak penting dalam implementasi kerja sama strategis Indonesia dan China di bidang riset vaksin, genomik, dan bioteknologi kesehatan yang telah dibangun sejak penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Ministry of Science and Technology (MOST) Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 2022 mengenai pembentukan Indonesia–China Joint Research and Development Center on Vaccine and Genomics. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas riset, alih teknologi, dan pengembangan inovasi kesehatan untuk mendukung transformasi sistem kesehatan nasional.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, mengatakan bahwa kolaborasi Indonesia dan China merupakan bagian dari strategi besar transformasi kesehatan nasional dalam memperkuat kapasitas riset, inovasi, dan pengembangan bioteknologi.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa kompleksitas virus dengue menuntut adanya inovasi baru. Kemajuan teknologi mRNA kini memungkinkan para ilmuwan untuk menciptakan vaksin yang lebih aman dan mampu memberikan perlindungan seimbang terhadap keempat serotipe dengue, sekaligus menekan risiko perburukan penyakit
"Dengue adalah penyakit kompleks dengan empat serotipe berbeda dan memiliki risiko perburukan penyakit akibat respons kekebalan yang tidak sempurna (ADE). Oleh karena itu, inovasi teknologi mRNA sangat krusial untuk merancang vaksin yang lebih aman, presisi, dan mampu memberikan perlindungan seimbang terhadap seluruh serotipe virus tersebut," terang ujar Menkes Budi saat menghadiri peluncuran Prototype Vaksin DBD di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Rabu (8/7).
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga pertengahan tahun 2025 tercatat 67.030 kasus DBD dengan 297 kematian. Sebagai negara tropis dengan empat serotipe virus dengue yang bersirkulasi, Indonesia membutuhkan inovasi yang didukung riset ilmiah dan mempertimbangkan karakteristik virus yang beredar di dalam negeri.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D bersama tim peneliti Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia mengembangkan prototipe vaksin dengue berbasis teknologi mRNA menggunakan virus dengue strain Indonesia. Kegiatan penelitian yang dilaksanakan di Infectious Disease and Immunology Research Center (IDIRC), IMERI FKUI ini menggabungkan teknologi mRNA generasi terbaru, rekayasa vaksin berbasis kecerdasan buatan, perlindungan tetravalen terhadap keempat serotipe virus dengue, dan rekayasa fusion loop yang dirancang untuk meminimalkan risiko antibody dependent enhancement.
Principal Investigator proyek ini, Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D., menyampaikan bahwa pengembangan vaksin ini berangkat dari komitmen untuk mewujudkan kemandirian Indonesia dalam pengembangan vaksin serta mendukung upaya penurunan angka kematian akibat dengue menuju target Zero Dengue Death 2030.
"Setiap tahun, dengue masih menyebabkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi di Indonesia. Melalui pengembangan vaksin ini, kami ingin menjadi bagian dari solusi dengan menghadirkan vaksin yang dirancang berdasarkan karakteristik virus dengue yang bersirkulasi di Indonesia. Bersama seluruh tim peneliti dan para mitra kolaborasi, kami berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi ini sebagai kontribusi nyata dalam mewujudkan target Zero Dengue Death 2030," ujar Prof. Beti.
Pencapaian ini merupakan puncak dari kerja keras ilmiah selama bertahun-tahun. Perjalanan penelitian ini mencakup studi epidemiologi nasional, pengumpulan spesimen dari berbagai wilayah di Indonesia, karakterisasi virus dengue, analisis bioinformatika, desain vaksin mRNA, optimasi laboratorium, dan evaluasi praklinis. Melibatkan mahasiswa Magister dan Doktoral Ilmu Biomedik FKUI di bawah bimbingan Prof. Beti, tahap selanjutnya akan difokuskan pada optimalisasi ekspresi antigen, sistem penghantaran (delivery system), pengujian antigenisitas, serta uji pra-klinik sebagai tahapan penting sebelum memasuki pengembangan berikutnya sesuai standar ilmiah dan regulasi yang berlaku.
Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, menegaskan komitmen universitas dalam memperkuat riset translasional yang mampu menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat.
"Melalui kolaborasi bersama Etana, Tsinghua University, BRIN, dan berbagai mitra strategis lainnya, Universitas Indonesia berharap hasil penelitian ini dapat menjadi fondasi bagi pengembangan inovasi kesehatan yang berdaya saing global," ujar Prof. Heri Hermansyah.
Prototype vaksin ini dikembangkan menggunakan platform teknologi mRNA milik Etana yang mulai dibangun dan diperkuat sejak pandemi COVID-19 sebagai bagian dari upaya membangun kapasitas nasional dalam pengembangan vaksin generasi baru. Melalui kolaborasi dengan Universitas Indonesia, Tsinghua University, BRIN, serta dukungan pendanaan dari LPDP, penelitian ini mengintegrasikan kemampuan akademik, riset dasar, pengembangan teknologi, hingga translasi hasil penelitian menuju inovasi biomedis yang diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia di masa depan.
Direktur Utama Etana, Nathan Tirtana, mengatakan bahwa platform mRNA yang dibangun sejak pandemi COVID-19 menjadi fondasi penting dalam pengembangan inovasi vaksin generasi berikutnya.
"Dengan memanfaatkan platform mRNA yang kami kembangkan serta menggunakan virus dengue strain Indonesia, kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut hingga tahap uji klinik di Indonesia sesuai ketentuan regulator. Ini merupakan langkah nyata dalam mendukung penguatan kemandirian vaksin dan industri bioteknologi nasional," ujar Nathan Tirtana.
Prototype yang diluncurkan hari ini merupakan hasil penelitian dan belum merupakan vaksin yang siap digunakan oleh masyarakat. LPDP dan Etana akan terus mendukung pendanaan riset ini hingga tahapan pra-klinik di tahun ketiga melalui program program Riset Inovatif Produktif (RISPRO), dan apabila memenuhi seluruh persyaratan ilmiah serta regulatori, diharapkan dapat berkembang menuju uji klinik di Indonesia.
Peluncuran prototype ini menjadi awal dari perjalanan panjang menuju pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA di Indonesia. Melalui sinergi antara perguruan tinggi, lembaga riset, industri, regulator, mitra internasional, dan pemerintah, Indonesia berharap dapat memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional, mempercepat kemandirian dalam pengembangan vaksin, serta berkontribusi pada peningkatan ketahanan kesehatan di tingkat nasional maupun global.
Sekilas tentang Etana
Didirikan pada tahun 2014, Etana adalah perusahaan biofarmasi Indonesia yang meneliti, memproduksi, dan memasarkan terapi biologis untuk pasar Asia Tenggara. Dengan misi melayani pasien dalam menyediakan terapi berkualitas tinggi, terjangkau, dan inovatif, perusahaan telah membangun fasilitas produksi lokal mutakhir yang memenuhi standar FDA internasional dan Indonesia. Fasilitas tersebut mampu menghasilkan terapi biologis dengan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Etana bercita-cita menjadi perusahaan biofarmasi terkemuka di kawasan ASEAN melalui ekspansi agresif dalam kapasitas produksi dan pengembangan produk, dengan fokus utama pada produk onkologi dan vaksin.
Etana dipimpin oleh tim manajemen lokal yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan luar dan dalam negeri serta memiliki pengalaman yang kuat di industri biofarmasi, dan didukung oleh tim investor internasional dan perusahaan biofarmasi terkemuka. Etana bertujuan untuk menyediakan terapi yang inovatif namun terjangkau melalui produksi lokal, untuk mendukung program pemerintah Indonesia dan permintaan pasar yang lebih besar. Etana saat ini adalah perusahaan biotek terkemuka di Indonesia yang berkomitmen pada penelitian dan pembuatan monoclonal antibodi, mRNA, dan platform biologis lainnya.